BIOGRAFI IBNU KHALDUN PDF

Sebenarnya, dialah yang patut dikatakan sebagai pendiri ilmu sosial. Ia lahir dan wafat di saat bulan suci Ramadan. Pemikiran-pemikirannya yang cemerlang mampu memberikan pengaruh besar bagi cendekiawan-cendekiawan Barat dan Timur, baik Muslim maupun non-Muslim. Dalam perjalanan hidupnya, Ibnu Khaldun dipenuhi dengan berbagai peristiwa, pengembaraan, dan perubahan dengan sejumlah tugas besar serta jabatan politis, ilmiah dan peradilan.

Author:Zutaxe Gardarg
Country:Qatar
Language:English (Spanish)
Genre:Finance
Published (Last):22 June 2014
Pages:403
PDF File Size:6.85 Mb
ePub File Size:11.46 Mb
ISBN:608-4-99729-261-6
Downloads:28554
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zulkilmaran



Latar Belakang Abad pertengahan dalam sejarah Islam, merupakan abad penuh pemikir dan pemikiran dalam berbagai bidang. Salah satu pemikir ahli pada waktu itu adalah Ibnu Khaldun, seorang ahli pikir Islam yang jenius dan termasyhur di kalangan intelektual modern. Dalam karya-karya Ibnu Khaldun dapat dilihat penguasaannya terhadap berbagai disiplin Ilmu Pengetahuan, seperti sejarah, sosiologi, dan politik sehingga tidak mengherankan apabila Ibnu Khaldun dikategorikan menjadi ahli sejarah, sosiologi, dan politik.

Bahkan banyak orang yang mengatakan bahwa Ibnu Khaldun adalah makhluk yang paling penting dan paling terhormat dalam alam semesta. Dalam mengemukakan konsep politiknya Ibnu Khaldun tidak dapat lepas dari kenyataan yang dihadapi dan dialami.

Disatu pihak ia melihat ikatan-ikatan bermasyarakat, bernegara dan berperadaban pada umumnya sebagai sesuatu yang berkembang terlepas dari agama, tetapi dipihak lain Ibnu Khaldun adalah seorang muslim dan tentu saja sangat mempengaruhi sikapnya dalam memandang masalah Tuhan, manusia dan masyarakat.

Rumusan Masalah 1. Siapakah Ibnu Khaldun? Apa Karya-Karya Ibni Khaldun? Tujuan dan Kegunaan 1. Mengetahui Ibnu Khaldun lebih dekat 2. Ibn Khaldun merupakan tokoh muslim terkemuka, bahkab, di zamannya ia dikenal sebagai ilmuan pioner yang memperlakukan sejarah sebagai ilmu serta memberikan alasan-alasan untuk mendukung fakta-fakta yang terjadi. Ibn Khaldun juga terkenal sebagai ilmuan sosiologi, ekonomi, politik, serta pernah juga terjundalam kancah politik praktis.

Itu semua tidak terlepas dari latar belakangnya yang pernah menjadi politisi, intelektual, sekaligus aristokrat. Bahkan sebelum pindah ke Afrika, keluarganya pernah menjadi pemimpin politik di Moor Spanyol. Pendidikan Ibn Khaldun dimulai dari ayahnya sendiri yang bertindak sebagai guru pertama. Secara garis besar kehidupan Ibnu Khaldun dibagi menjadi empat fase : Pertama, fase pertumbuhan dan studi yang dimulai dari tahun H hingga akhir tahun H. Setelah itu, ia belajar di luar dengan beberapa guru.

Selain mempelajari ilmu agama, ia juga belajar ilmu lainnya seperti ilmu filsafat, teologi, ilmu alam, matematika dan astronomi. Fase kedua, keterlibatan dalam dunia politik. Kondisi politik pada masa itu ditandai oleh kemajemukan kerajaan-kerajaan Islam yang menyebabkan dunia politik penuh dengan intrik. Khaldun tidak mengelak dalam berbagai intrik politik tersebut.

Latar belakang pendidiknannya telah membedakan Khaldun dengan tokoh politik kala itu. Disamping terlibat penuh dengan dalam dinamika intrik, ia juga menyempatkan diri sebagai pengamat perilaku-perilaku politik kaum elit. Karir politik Khaldun dimulai sebagai tukang stempel surat dalam pemerintahan Ibnu Tafrakin. Selanjutnya Khaldun melibatkan diri ke dalam sebuah intrik politik dimana ia bekerjasama dengan rival Sultan Abu Inan, Amir Abu Abdullah Muhammad, untuk merebut kekuasaan sang sultan.

Intrik ini melahirkan malapetaka bagi Khaldun. Ia dipenjara Sultan Abu Inan selama dua tahun begitu persengkokolan politik dan kekuasaan tersebut ditumpas. Selanjutnya Khaldun mengabdi pada Abu Salim penguasaMaroko. Khaldun diangkat sebagai sekretaris dan penasehatnya. Pada tahun karena terjadi intrik politik yang menyebabkan terbunuhnya Abu Salim, lagi-lagi Ibnu Khaldun dicurigai, dan memaksanya untuk pindah ke Granada. Sang raja menjadikannya duta besar. Khaldun bahkan dipercaya sebagai wakil penuh sang raja karena ia bertindak sebagai penandatangan perjanjian perdamaian antara kedua Negara.

Karena situasi tidak bersahabat dan kebetulan mendapat undangan dai Abu Abdullah Penguasa Bouqie untuk diangkat menjadi Perdana Menteri, maka pada tahun ia memenuhi undangan tersebut. Namun pada tahun berikutnya ia pindah ke Konstantin menjadi pembantu Raja Abdul Abbas. Kemudian setelah merasa tidak dipercaya lagi menduduki jabatan penting, Ibnu Khaldun memilih menetap di Biskra.

Akhirnya, disanalah ia memutuskan untuk meninggalkan panggung politik praktis yang dulu pernah melambungkan dan membesarkan namanya, lalu lebih memilih menekuni bidang kesarjanaannya.

Karena tidak sepaham dengan sebagian pembesar Granada, Khaldun menerima tawaran Abdullah Muhammad Al-Hafsi sebagai perdana menteri. Di tengah jalan, intrik dan pergolakan politik yang tidak kenal henti yang melanda kerajaan-kerajaan Islam menjadikannya beralih loyalitasnya kepada Abu Abbas, sepupu Muhammad Al-Hafsi, yang merebut kekuasaan. Fase ketiga, Khaldun mengembangkan pemikiran dan kontemplasi yang berlangsung dari tahun H sampai akhir tahun H.

Ini dilakukan setelah fase pengabdiannya kepada kekuasaan dalam berbagai pemerintahan. Nampaknya Ibnu Khaldun merasa lelah dalam petualangan politiknya dan memutuskan untuk hidup menyendiri guna menyusun karya-karyanya di benteng Banu Salamah.

Dalam masa kontemplasi yang relatif singkat inilah Khladun berhasil menyelesaikan salah satu karya monumentalnya, Al-Ibar beserta Muqaddimah-nya. Fase keempat adalah babak akhir kehidupannya. Khladun mulai mengundurkan diri dari dunia politik. Khaldun dengan serius membenamkan diri pada tugas intelektualnya, menyelesaikan karya monumental yang dianggap masih tersisa. Seluruh karya yang dihasilkan diberikan kepada penguasa.

Intrik politik tidak selesai melandanya. Ia menjadi sasaran tembak para elit dalam lingkaran kekuasaan. Pembesar negei tersebut telah merusak persahabantannya dengan sultan Abu Al-Abbas. Kenyataan inilah yang mendorongnya meninggalkan wilayah kekuasaan itu. Khaldun membuat kamuflase dengan meminta izin kepada sultan untuk pergi haji. Dalam kenyataannya, Ibnu Khaldun tidak mengarahkan kakinya ke Mekkah.

Ia ke Iskandaria. Sultan mengagumi pemikiran Khaldun dan menjadikannya sebagai hakim agung. Dalam periode ini, Khaldun bertemu Timur Lenk- sang penakluk dan penguasa baru yang sangat terkenal dalam sejarah kekuasaan dan peradaban Islam di Tiimur Tengah- di Syiria. Seperti sultan lainnya, Timur Lenk mengagumi pemikiran Khaldun hingga ia menawari Khaldun untuk bekerja di istananya.

Tampaknya fase kontemplasi Khaldun tidak menyisakan nafsu politik dan kekuasaan lagi. Akhirnya Khaldun menolak tawaran yang menggiurkan itu. Khaldun pada akhirnya tak lagi menghiraukan godaan-godaan kekuasaan di akhir fase kehidupannya.

Bahkan ia tak lagi bergeming untuk memberikan reaksi terhadap pancigan lawan- lawan politiknya. Khaldun tetap menjadi ilmuwan dan hakim agung sampai akhir hayat. Karya-Karya Ibnu Khaldun Meskipun Ibnu Khaldun hidup pada masa di mana peradaban Islam mulai mengalami kehancuran atau menurut Nurkholis Madjid, pada saat umat Islam telah mengalami anti klimaks perkembangan peradabannya, namun ia mampu tampil sebagai pemikir muslim yang kreatif, yang melahirkan pemikiranpemikiran besar yang dituangkan dalam beberapa karyanya, hampir seluruhnya bersifat orisinil dan kepeloporan.

Berikut ini beberapa karya Ibnu Khaldun yang cukup terkenal, antara lain : a. Karya yang dilihat dari judulnya mempunyai gaya sajak yang tinggi ini dapat diterjemahkan menjadi; Kitab contoh-contoh dan rekaman-rekaman tentang asal-usul dan peristiwa hari-hari arab, Persia, Barbar dan orang-orang yang sezaman dengan mereka yang memiliki kekuatan besar.

Kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun Dalam volume tujuh jilid, kajian yang dikandung begitu luas menyangkut masalah-masalah social, para Khaldunian cenderung menganggapnya sebagai ensiklopedia. Karya-karya lain Selain karya yang telah disebutkan di atas, Ibnu Khaldun sebenarnya memiliki karya-karya lainnya seperti: Burdah al-Bushairi, tentang logika dan aritmatikadan beberapa resume ilmu fiqih.

Sementara itu masih ada dua karya Ibnu Khaldun yang yang masih sempat dilestarikan yaitu sebuah ikhtisar yang ditulis Ibnu Khaldun dengan tangannya sendiri ini berjudul Lubab al-Muhashal fi Ushul ad-Din.

Dan kitab Syifa al-Sailfi Tahdzib al-Massat yang ditulis Ibnu Khaldun ketika berada di Fez, adalah karya pertama yang berbicara tentang teologi skolastik dan karya kedua membahas tentang mistisisme konvensional. Pemikiran Politik dan Sosiologi Politik Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun mengemukakan suatu bahasan tentang filsafat politik, yakni dalam pengkajiannya tentang bentuk Negara, berbagai lembaga kenegaraan dan karakter kekuasaan di dinasti-dinasti dan Negara-negara Islam.

Pengkajian ini diuraikan mulai dari pasal keduapuluh lima sampai dua puluh delapan alMuqaddimah. Peran Politis Ashabiyah Menurut Khaldun, suatu suku mungkin dapat membentuk dan memelihara suatu negara apabila suku itu memiliki sejumlah karakteristik sosial-politik tertentu, yang oelh Ibnu Khaldun disebut dengan Ashabah. Karakteristik ini justru berada hanya dalam kerangka kebudayaan desa. Oleh karena itu penguasaan atas kekuasaan dan pendirian Negara, sehingga munculnya kebudayaan kota akan membuat sirnanya ashabiyah yang mengakibatkan melemahnya Negara Ashabiyah adalah kekuatan penggerak Negara dan merupakan landasan tegaknya suatu Negara atau dinasti.

Bilamana Negara atau dinasti tersebut telah mapan, ia akan berupaya menghancurkan ashabiyah. Ashabiyah mempunyai peran besar dalam perluasan Negara setelah sebelumnya merupakan landasan tegaknya Negara tersebut. Bila ashabiyah itu kuat, maka Negara yang muncul relatif terbatas. Ashabiyah bisa merupakan alat perjuangan, alat penyerang dan bertahan. Dpaat pula sebagai alat penyelesaian konflik antar golongan, yakni bila konflik ini haris diselesaikan secara kekerasan. Dalam masyarakat menetap tujuan terakhir ashabiyah adalah Mulk, kekuasaan-wibawa yang pada akhirnya melemahkan kemauan agar dituruti, kalau perlu dengan kekerasan.

Pada tahap selanjutnya, alatalat kekuasaan termasuk ashabiyah kurang memegang peranan sebagaimana ia diperlukan untuk menegakkan kekuasaan itu di awal mula. Penguasa dan orangorang yang telah membantunya menegakkan kekuasaan itu mulai melihat kepada hal-hal lain yang dirasakan lebih menarik, terutama kemewahan yang datang tanpa dicari.

Karena pada dasarnya tabiat kekuasaan itu diiringi dengan kemewahan. Tetapi kemewahan ini hanya pada permulaan saja akan menambah si penguasa. Akhirnya ia akan melemahkan kekuatan ini, sebab ia mengandung sifat yang merusak akhlak manusia. Kemewahan akan melupakan seseorang tentang kewajiban-kewajibannya yang sesuai yang harus dipenuhi sebagai seorang penguasa.

Kemudian melemahkan ashabiyah. Dengan demikian, seorang penguasa mendasarkan kekuasaannya pada serdadu upahan, yang merupakan pejabat-pejabat yang tidak mengenal ashabiyah. Bila ini terjadi, sekurangkurangnya buat sementara, kekuasaan akan menuju pada pemusatan kekuasaan.

Kemudian kekerasan untuk memaksakan kehendak. Di masa awal terbentuknya sebuah negara, bagaimanapun ashabiyah tetap dianggap sebagai faktor esensial bagi kelanjutan negara. Pada masa ini, masyarakat harus membangun lembaga- lembaga yang perlu bagi budaya peradaban, termasuk kelembagaan kelas penguasa baru.

Hasilnya, kata Khaldun, adalah kemunculan hubungan-hubungan politik baru, selain berbagai aktivitas politik yang baru. Semua ini tak akan tercapai dengan baik, kecuali dengan ashabiyah, yang akan semakin kuat dengan bantuan sentimen agama. Karena itu, ia memandang pentingnya ashabiyah dalam suatu masyarakat dan negara. Bila Ashabiyah dibina dan dikelola dengan baik, ia akan menjaga dan terus menumbuhkan stabilitas politik dan keamanan.

Karena tuntutan-tuntutan sosial, Negara merupakan institusi alami yang tidak dapat bertahan, kecuali melalui organisasi social dan kerjasama. Oleh karena itu, menurutnya, dalam kondisi tersebut diperlukan noma-norma politik serta hukum yang disepakati dan mengabdi kepada masyarakat.

Sebagai konsekuensinya, sebagai institusi pemerintahan hanya ada ketika ada penguasa yang memerintah dan diberikan wewenang untuk mengurusi kepentingan warga Negara.

LIMBAJUL JAVA PDF

Ibn Khaldūn

Bagaimana Ibnu Khaldun di sebut sebagai ahli Sosiologi? Bagaimana Auguste Comte di sebut sebagai ahli Sosiologi? Dapat menunjukkan kemampuan menjelaskan Ibnu Khaldun sebagai Ahli Sosiologi 2. Namun ia dan keluarganya harus pindah ketika wilayah Sevilla telah ditaklukkan Kristen dan dikuasai Kristen tahun M setelah hancurnya Dinasti Muwahiddun. Kakeknya Muhammad sangat gemar mempelajari ilmu-ilmu keagamaan.

CULTIVO DE TAGETES ERECTA PDF

Biografi Ibnu Khaldun – peletak dasar ilmu sosial dan politik Islam

He also wrote a definitive history of Muslim North Africa. The family subsequently moved to Sevilla Seville , played an important part in the civil wars of the 9th century, and was long reckoned among the three leading houses of that city. There the refugees from Spain were of a much higher level of socio-economic status than the local North Africans, and the family was soon called to occupy the leading administrative posts in Tunis. Subscribe today He was outstanding in his knowledge of Arabic and had an understanding of poetry in its different forms and I can well remember how the men of letters sought his opinion in matters of dispute and submitted their works to him.

AIKIDO NISHIO PDF

Ibn Khaldun

Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith dan David Ricardo mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula. Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes, Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah. Dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini.

Related Articles