EFEK SAMPING ARV PDF

Bisa dibilang hidup odha tergantung pada jenis obat tersebut. Umumnya pasien yang mengonsumsi obat ini akan mengeluh dua hari setelah meminum obat ini. Kehilangan Nafsu Makan Bila anda mengamati odha yang hidup dengan anda, mungkin anda dapat melihatnya tidak berselera makan. Sehingga perlu dukungan dan dorongan tertentu supaya odha mau menelan makanan.

Author:Vudogrel Brasho
Country:Belgium
Language:English (Spanish)
Genre:Relationship
Published (Last):14 April 2015
Pages:455
PDF File Size:10.64 Mb
ePub File Size:2.76 Mb
ISBN:551-1-54026-364-9
Downloads:66073
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Vur



Tujuannya adalah untuk menekan supaya replikasi dan perkembangan virus menjadi seminimal mungkin. Dengan begitu, sistem imun akan membaik sehingga infeksi sekunder dapat dicegah. Obat ini diminum seumur hidup. Profilaksis primer tersebut menggunakan kotrimoksasol double strength 1 tablet perhari. Selain itu, karena fungsi imun yang buruk, infeksi oportunistik menjadi salah satu masalah utama penderita AIDS. Terapi sesuai dengan infeksi yang terjadi.

Indikasi memulai ARV disesuaikan dengan stadium klinisnya. Sementara jika pasien juga mengalami TB paru yang berarti setidaknya sudah stadium 3, ARV segera diberikan dengan CD4 berapapun, setelah memulai terapi obat antituberkulosis OAT selama 8 minggu. Kondisi lain yang menyebabkan seseorang wajib mendapatkan ARV tanpa melihat nilai CD4-nya antara lain adalah ibu hamil dan penderita hepatitis B.

Apa saja regimen ARV dan prinsip pengobatan yang direkomendasikan? Pengobatan dengan ARV bersifat seumur hidup serta harus dilakukan secara rutin dan teratur dengan kontrol atau evaluasi berkala. Jika putus berobat, dikhawatirkan dapat terjadi resistensi obat, gagal pengobatan maupun perburukan keadaan klinis ARV harus diberikan secara kombinasi dengan setidakny 3 regimen obat supaya berbagai jenis mutasi yang terjadi pada virus selama oengobatan dapat diatasi.

Tanpa kombinasi, HIV dapat mengembangkan mutasinya sehingga virus menjadi resisten obat. Untuk mempermudahnya, kita dapat membagi pilihan obatnya sebagai berikut. Selalu diingat bahwa ada 3 jenis obat yang akan digunakan. Untuk mempermudah pasien dalam meminum obat sehingga meningkatkan kepatuhan, saat ini tersedia kombinasi dosis tetap ARV antara lain adalah 3in1 ARV terdiri dari tenofovir, lamivudin dan efavirenz dan duviral Zidovudin dan Lamivudin.

Saat ini FDC 3in1 merupakan pilihan utama untuk terapi HIV lini pertama mengingat hanya perlu diminum satu kali sehari sehingga lebih mudah penggunaannya. Pasien juga akan cenderung lebih disiplin minum obat. Namun, pada pasien dengan gangguan ginjal, baik karena memang sudah ada sebelum pengobatan dengan ARV atau karena efek samping dari Tenofovir, obat tersebut sebaiknya tidak digunakan.

Oleh karena itu, sebelum memulai pengobatan dengan regimen Tenofovir, kita perlu melakukan pemeriksaan fungsi ginjal kreatinin darah. Apabila Tenofovir tidak dapat digunakan, sesuai dengan panduan di atas, kita dapat menggantinya dengan Zidovudin. Zidovudin dapat diberikan dalam bentuk obat tunggal atau melalui obat kombinasi seperti duviral Zidovudin dan Lamivudin dikombinasikan dengan Efavirenz atau Nevirapin.

Duviral diberikan 2 kali sehari, sementara Evafirenz 1 kali sehari sedangkan Nevirapin 2 kali sehari kecuali pada dua minggu pertama yang masih diberikan sekali sehari. Pada pemberian Efavirenz perlu diperhatikan bahwa pasien dapat mengalami rasa pusing sehingga disarankan untuk meminumnya di malam hari sebelum tidur.

Zidovudin tidak dapat digunakan pada pasien dengan anemia karena obat tersebut dapat menyebabkan depresi sumsum tulang, anemia makrositik, dan neutropenia. Oleh karena itu, sebelum pengobatan dengan Zidovudin, kita perlu melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin dalam darah. Jika tidak bisa menggunakan tenovofir, bisa diganti dengan zidovudin, begitu juga sebaliknya.

Jika keduanya tidak dapat digunakan, pilihan lainnya adalah Stavudin. Pada populasi tertentu seperti penderita HIV ditambah dengan hepatitis B, Tenofovir menjadi pilihan utama. Sementara itu, Efavirenz lebih banyak digunakan sebagai NNRTI pilihan karena memiliki angka keberhasilan terapi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Nevirapin. Selain itu, meski keduanya dapat memiliki efek samping toksisitas hepar, pada Efavirenz kejadiannya lebih kecil dibandingkan Nevirapin.

Namun, Efavirenz tidak boleh digunakan pada wanita hamil trimester pertama karena dapat bersifat teratogenik. Oleh karena itu, pada wanita usia produktif, sebelum penggunaan Efavirenz perlu diperiksa status kehamilannya. Efek samping lain yang dapat mengganggu pengobatan dengan Efavirenz adalah hipersensitivitas. Jika Efavirenz tidak dapat digunakan, Nevirapin dapat menjadi pilihan pengganti dengan sebelumnya perlu melakukan pemeriksaan fungsi hati, terutama SGPT.

Untuk mengevaluasi pengobatan, meski tidak ada gejala klinis, pasien harus diperiksa viral load setiap 6 bulan sekali. HbsAg menjadi pemeriksaan penunjang yang penting pada saat diagnosis HIV. Sementara itu, viral load diperiksa pada saat terjadi kegagalan imunologis maupun kegagalan klinis.

CD4 perlu diperiksa berkala untuk memastikan respon pengobatan. Bagaimana kita dapat menyimpulkan kegagalan terapi ARV dan merencanakan pengobatan lini kedua? Paremeter kegagalan terapi ARV dapat ditentukan melalui kegagalan klinis, kegagalan imunologis dan kegagalan virologis. Kegagalan klinis merupakan kondisi terjadinya stadium 4 baru sebelum pengobatan pasien masih dalam stadium klinis 3 atau lebih rendah atau berulang pasien mengalami stadium klinis 4, kemudian mengalami perbaikan, tetapi berulang kembali meski sudah menjalani pengobatan.

Selain itu, ada kondisi yang sebenarnya terjadi pada stadium 3, seperti TB paru maupun infeksi bakteri berat, yang dapat menjadi penanda kegagalan pengobatan. Apabila terjadi kegagalan terapi, langkah utama yang perlu dilakukan adalah melakukan evaluasi jumlah CD4 , viral load serta kepatuhan pasien dalam meminum obat. Kegagalan terapi dapat disimpulkan apabila pasien sudah menjalani terapi selama 6 bulan dengan kepatuhan yang baik.

Oleh karena itu, jika target pengobatan belum tercapai saat evaluasi sementara kepatuhan meminum obat masih buruk, hal pertama yang dapat kita lakukan adalah melakukan upaya perbaikan kepatuhan dan kedisiplinan meminum obat.

Perlu digali secara lebih dalam kesulitan-kesulitan yang pasien alami sehingga pengobatan ARV mengalami kendala. Selanjutnya dapat dievaluasi ulang setelah 3 bulan. Apabila kepatuhan meminum obat sudah baik tetapi pasien mengalami kegagalan terapi, selanjutnya dapat digunakan ARV lini kedua. Parameter lain yang dapat menjadi pertimbangan untuk memilih segera mengganti dengan terapi ARV lini kedua atau sementara melakukan perbaikan kepatuhan minum obat adalah viral load.

Jika pun ingin mengevaluasi dengan perbaikan kepatuhan, sebaiknya tidak lebih dari satu bulan. Bagaimana menentukan regimen ARV lini kedua? Hal terpenting yang perlu kita perhatikan saat akan mengganti regimen menjadi lini kedua adalah sebagai berikut. Dalam hal ini, apabila pada obat lini pertama kita menggunakan Tenovofir, pada regimen lini kedua kita perlu menggantinya dengan Zidovudin.

Sebaliknya, jika sebelumnya sudah digunakan Zidovudin atau Stavudin, kita perlu menggantinya dengan Tenovofir. Oleh karena itu, pasien perlu menjalani evaluasi risiko kardiovaskular serta pemeriksaan khusus seperti profil lipid dan kadar gula darah puasa sebelum memulai terapi lini kedua. Regimen ini, pada penggunaan untuk lini kedua belum ada alternatif penggantinya hingga saat ini. Regimen lini ketiga saat ini belum tersedia di Indonesia.

Jakarta: Interna Publishing; Originally posted

HERMENEUTICA CONSTITUCIONAL PETER HABERLE PDF

Profil Obat ARV (Antriretrovirus)

Virus HIV diketahui hanya bekerja dalam melumpuhkan sistem imun tubuh manusia yang mana dapat terdiri dari sel darah putih dan sel CD4. Selama dalam tubuh keberadaan virus HIV terutama pada cairan tubuh yang mengandung sistem imun tubuh seperti darah dan dapat menimbulkan ciri orang terinfeksi HIV setelah memasuki tahapan tertentu dari infeksi virus. Pemanfaatan dari pengobatan ARV sebagai cara menghilangkan virus HIV ini sebenarnya juga dapat menimbulkan beberapa dampak atau efek samping terhadap tubuh, beberapa diantaranya yaitu : Nafsu makan yang menurun Efek samping obat ARV pertama yang mungkin saja dapat terjadi yaitu menurunnya nafsu makan pasien HIV selama menerima dan mengkonsumsi beberapa jenis obat-obatan HIV. Ketika pasien HIV mengalami efek samping dari obat yang dikonsumsinya setiap hari, pasien dapat melakukan beberapa cara untuk mengatasinya. Membiasakan diri untuk mengkonsumsi makanan dalam porsi yang lebih sedikit dari porsi makan yang biasanya dapat mengatasi nafsu makan yang menurun karena lambung tidak akan terlalu berasa penuh, cara lainnya yaitu memilih mengkonsumsi suplemen makanna atau bisa juga jus dan smoothies yang kaya akan nutrisi dan serat. Bebebarapa cara perlu dilakukan agar tubuh tetap mendapatkan nutirisi dan energi walaupun sedang mengalami nafsu makan yang menurun. Efek samping obat ARV ini akan terus berlangsung sehingga dibutuhkannya beberapa cara yang bertujuan mengontrol penimbunan lemak pada tubuh.

GEORGE MEREDITH THE EGOIST PDF

7 Efek Samping Obat ARV Pada Tubuh Pasien HIV

NRTI merupakan analog nukleopeptida yang secara langsung masuk ke situs katalitik enzim untuk menghentikan proses replikasi. Sama dengan kerja NRTI lainnya, zidovudine merupakan analog dari asam nukleat yang dalam hal ini adalah thymidine. Adapun gugus kimia zidovudine adalah sebagai berikut: Zidovudine akan berikatan dengan enzim reverse transcriptase dari HIV yang kemudian akan menyebabkan enzim tersebut berhenti bekerja. Secara selektif, zidovudine berikatan dengan enzim virus namun apabila dalam dosis besar, obat ini juga akan mengganggu enzim DNA polimerase dari manusia sehingga akan menimbulkan efek samping.

PROGRAMMING WINDOWS WITH MFC BY JEFF PROSISE PDF

5 Macam Obat Antiretroviral (ARV) yang Digunakan Dalam Rejimen Pengobatan HIV/AIDS

Tujuannya adalah untuk menekan supaya replikasi dan perkembangan virus menjadi seminimal mungkin. Dengan begitu, sistem imun akan membaik sehingga infeksi sekunder dapat dicegah. Obat ini diminum seumur hidup. Profilaksis primer tersebut menggunakan kotrimoksasol double strength 1 tablet perhari. Selain itu, karena fungsi imun yang buruk, infeksi oportunistik menjadi salah satu masalah utama penderita AIDS.

Related Articles