GEGAR BUDAYA PDF

Kumpulan Jurnal Tentang Budaya Organisasi Oleh cinta jurnal Diposting pada 19 Agustus …Pentingnya Budaya Organisasi dalam Jurnal Tentang Budaya Organisasi Jika sebuah organisasi memiliki budaya organisasi yang kuat, mka inilah yang menjadi kunci kesuksesan organisasi tersebut. Jika budaya organisasi kuat, berarti… Oleh cinta jurnal Diposting pada 30 Oktober 15 November …Pentingnya Budaya Organisasi dalam Jurnal Tentang Budaya Organisasi Kumpulan Jurnal Tentang Budaya Organisasi Jika sebuah organisasi memiliki budaya organisasi yang kuat, mka inilah yang menjadi kunci kesuksesan organisasi tersebut…. Oleh cinta jurnal Diposting pada 19 Agustus …sudah tersedia pada link download di bawah ini Jurnal pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan merupakan jurnal yang membicarakan tentang kebiasaan karyawan yang dipengaruhi oleh budaya dalam organisasi apakah bisa… Oleh cinta jurnal Diposting pada 19 Agustus …perusahaan adalah sebuah karya ilmiah yang berisi tentang karakteristik nilai yang dijunjung tinggi oleh seluruh anggota di perusahaan tersebut. Anda bisa mendapatkan salah satu jurnal budaya organisasi perusahaan dengan mengklik… Oleh cinta jurnal Diposting pada 19 Agustus …Jurnal Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan PDF Setiap perusahaan tentu memiliki budaya masing-masing dalam upaya mencapai target yang diinginkan dan hal inilah yang perlu Anda pelajari dengan membaca… Oleh cinta jurnal Diposting pada 20 Agustus …KUDUS Incoming search terms: kasus terkini tentang motivasi karyawan promosi endorse adalah jurnal kompensasi pt djarum pengertian budaya menurut para ahli jurnal jurnal media gambar jurnal sistem kompensasi kumpulan tesis….

Author:Talabar Zulkibar
Country:Fiji
Language:English (Spanish)
Genre:Software
Published (Last):13 December 2013
Pages:108
PDF File Size:5.37 Mb
ePub File Size:15.19 Mb
ISBN:319-1-71849-444-1
Downloads:8474
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Jukinos



Menurutnya, culture shock didefinisikan sebagai kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan semua lambing dan symbol yang familiar dalam hubungan social, termasuk didalamnya seribu satu cara yang mengarahkan kita dalam situasi keseharian, misalnya: bagaiman untuk memberi perintah, bagaimana membeli sesuatu, kapan dan di mana kita tidak perlu merespon.

Banyak definisi dari para ahli tentang gegar budaya, namun pada initinya, jika kami menyimpulkan, gegar budaya adalah kondisi kecemasan yang dialami seseorang dalam rangka penyesuaiannya dalam lingkungan yang baru di mana nilai budaya yang ada tidak sesuai dengan nilai budaya yang dimilikinya sejak lama. Deddy Mulyana lebih mendasarkan gegar budaya sebagai benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan pesepsi berdasarkan faktor-faktor internal nilai-nilai budaya yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami.

Lingkungan baru dapat merujuk pada agama baru, sekolah baru, lingkungan kerja baru, dsb. Reaksi pada culture shock Reaksi terhadap culture shock bervariasi antara 1 individu dengan individu lainnya, dan dapat muncul pada waktu yang berbeda.

Keempat tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva u, sehingga disebut u-curve. Fase optimistic, fase pertama yang digambarkan berada pada bagian kiri atas dari kurva U. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan.

Ini adalah periode krisis daalm culture shock. Orang menjadi bingung dan tercengan dengan sekitarnya, dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap permusuhan, mudah marah, tidak sabaran, dan bahkan menjadi tidak kompeten.

Fase recovery, fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. Pada tahap ini, orang secara bertahap membuat penyesuaian dan perubahan dalam caranya menanggulangi budaya baru.

Orang-orang dan peristiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan. Fase penyesuaian, fase terakhir, pada puncak kanan U, orang telah mengertpi elemen kunci dari budaya barunya nilai-nilai, adapt khusus, pola keomunikasi, keyakinan, dll. Kemampuan untuk hidup dalam 2 budaya yang berbeda, biasanya uga disertai dengan rasa puas dan menikmati. Namun beberapa hali menyatakan bahwa, untuk dapat hidup dalam 2 budaya tersebut, seseorang akan perlu beradaptasi kembali dengan budayanya terdahulu, dan memunculkan gagasan tentang W curve, yaitu gabungan dari 2 U curve.

Deddy Mulyana menyebut gegar budaya sebagai suatu penyakit yang mempunyai gejala dan pengobatan tersendiri. Beberapa gejala gegar budaya adalah buang air kecil, minum, makan dan tidur yang berlebih-lebihan, takut kontak fisik dengan orang-orang lain, tatapan mata yang kosong, perasaan tidak berdaya dan keinginan untuk terus bergantung pada penduduk sebangsanya, marah karena hal-hal sepele, reaksi yang berlebihan terhadap penyakit yang sepele, dan akhirnya, keinginan yang memuncak untuk pulang ke kampung halaman.

Derajat gegar budaya yang mempengaruhi orang berbeda-beda. Ada beberapa orang yang tidak dapat tinggal di negara asing. Namun, banyak pula yang berhasi menyesuaikan diri dengan lingkunagan barunya.

Deddy Mulyana juga memaparkan tahapan-tahapan penyesuaian orang terhadap lingkungan barunya yang hampir mirip dengan tahapan sebelumnya. Orang masih bersemangat dan beritikad baik dalam menjalin persahabatan antarbangsa. Tahap kedua dimulai ketika orang mulai menghadapi kondisi nyata dalam hidupnya, ditandai dan dimulai dengan suatu sikap memusuhi dan agresif terhadap negeri pribumi yang berasal dari kesulitan pendatang dalam menyesuaikan diri.

Misalnya kesulitan rumah tangga, kesulitan transportasi dan fakta bahwa kaum pribumi tak menghiraukan kesulitan mereka. Pendatang menjadi agresif kemudian bergerombol dengan teman-teman sebangsa dan mulai mengkritik negeri pribumi, adat-istidatnya, dan orang-orangnya. Tahap ketiga pendatang mulai menuju ke kesembuhan dengan bersikap positif terhadap penduduk pribumi. Pada tahap keempat, penyesuaian diri hampir lengkap. Pendatang sudah mulai menerima adat-istiadat itu sebagai cara hidup yang lain.

Bergaul dalam lingkungan-lingkungan baru tanpa merasa cemas, walau kadang masih ada ketegangan sosial yang nantinya seiring dalam pergaulan sosialnya ketegangan ini akan lenyap. Akhirnya pendatang telah memahami negeri pribumi dan menyesuaikannya, hingga akhirnya, ketika pulang ke kampung halaman pun kebiasaan di negeri pribumi tersebut akan dibawa-bawa dan dirindukan.

Contoh Gegar Budaya Program internasional yang dibuka oleh bebarapa sekolah didunia membuka kemungkinan adanya siswa-siswa yang datang dari budaya yang berbeda untuk belajar bersama-sama ditempat yang merka datangi. Kerjasama yang diadakan oleh pemerintah, seperti pertukaran pelajar ataupun pemberian beasiswa keluar negeri menjadi salah satu penyebab Akulturasi Kebudayaan. Sebagai contoh adalah sarapan pagi di Indonesia, sarapan pagi bagi kebanyakan orang Indonesia menggunakan nasi, sehingga mereka akan merasa belum kenyang apabila belum merasakan nasi di lambung mereka ketika sarapan pagi.

Namun berbeda bagi mereka orang luar negeri, misalkan Amerika Serikat. Mereka setiap sarapan pagi hanya menggunakan roti dan susu. Hingga suatu saat ketika orang dari kedua Negara bertemu mereka akan mengalai gegar budaya. Karena mereka harus sarapan dengan makana yang tidak biasa mereka santap dipagi hari.

Orang Indonesia akan kesulitan dan merasa kurang kenyang apabila makan roti.

ELEKTRONOWY MIKROSKOP TRANSMISYJNY PDF

Fenomena Gegar Budaya atau Culture Shock

Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering Monday, January 2, sepatu orthopadi orthoshoping. Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambing-lambang dalam pergaulan social. Misalnya kapan berjabat tangan dan apa yang harus kita katakan bila bertemu dengan orang, kapan dan bagaimana kita memberikan tip, bagaimana berbelanja, kapan menolak dan menerima undangan, dsb. Petunjuk-petunjuk ini yang mungkin berbentuk kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah, kebiasaan-kebiasaan, atau norma-norma, kita peroleh sepanjang perjalanan hidup kita sejak kecil. Bila seseorang memasuki suatu budaya asing, semua atau hampir semua petunjuk ini lenyap. Ia bagaikan ikan yang keluar dari air. Orang akan kehilangan pegangan lalu mengalami frustasi dan kecemasan.

ASUS P8H61-M PRO MANUAL PDF

Pengertian dan Contoh Gegar Budaya

Menurutnya, culture shock didefinisikan sebagai kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan semua lambing dan symbol yang familiar dalam hubungan social, termasuk didalamnya seribu satu cara yang mengarahkan kita dalam situasi keseharian, misalnya: bagaiman untuk memberi perintah, bagaimana membeli sesuatu, kapan dan di mana kita tidak perlu merespon. Banyak definisi dari para ahli tentang gegar budaya, namun pada initinya, jika kami menyimpulkan, gegar budaya adalah kondisi kecemasan yang dialami seseorang dalam rangka penyesuaiannya dalam lingkungan yang baru di mana nilai budaya yang ada tidak sesuai dengan nilai budaya yang dimilikinya sejak lama. Deddy Mulyana lebih mendasarkan gegar budaya sebagai benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan pesepsi berdasarkan faktor-faktor internal nilai-nilai budaya yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami. Lingkungan baru dapat merujuk pada agama baru, sekolah baru, lingkungan kerja baru, dsb.

ENGLISH BARAKHADI CHART PDF

Jurnal Doc : makalah tentang gegar budaya

Istilah culture shock pertama kali dikenalkan oleh Kelvero Oberg pada tahun Pada awalnya definisi culture shock menekankan pada komunikasi. Oberg mendefinisikan culture shock sebagai kecemasan yang timbul akibat hilangnya sign dan simbol hubungan sosial yang familiar. Orang-orang yang telah mengembangkan budaya adalah orang-orang yang telah hidup bersama dan saling mempengaruhi satu sama lain. Keseluruhan cara hidup tersebut termasuk nilai-nilai, kepercayaan, standar estetika, ekspresi lingusitik, pola berpikir, norma perilaku, dan gaya komunikasi. Di sisi lain, semuanya adalah cara yang dapat menjamin kelangsungan hidup masyarakat dalam lingkungan fisik dan lingkungan manusia tertentu Pusch, , dikutip oleh Wan,

BAKANAE DISEASE OF RICE PDF

Dampak Culture Shock (Gegar Budaya) pada Bangsa Indonesia

Research on cultural shock and identity struggles as a result is carried out by qualitative descriptive methods. Data in the form of relevant citations are collected by referring to the note-taking technique and analyzed to draw conclusions. The results of this study indicate that there are four phases of cultural shock that the main character traverses are: the honeymoon phase, the prison phase, the adaptation phase, and the adjustment phase. The factors that influence the occurrence of cultural shock in these figures are: intrapersonal factors, cultural variations, and socio-political manifestations. The three aspects of the cultural shock that Mehdi experienced were: loss of familiar signs, identity crises, and the breakdown of interpersonal communication that led to frustration and anxiety due to language barriers.

Related Articles